"Stop menggunakan produk USA, aku benci USA, najis USA….bla bla bla…."
Melihat kutipan di atas, aku menjadi bingung. Apa karena aku semakin renta sehingga sulit memaknai kalimat-kalimat itu? Atau karena lebih sering digunakan membuka situs-situs porno sehingga volume otakku semakin menciut dan menjadi bodoh untuk sekedar membenarkan atau menyalahkan kalimat-kalimat itu?
Tadi pagi, Pak Paino, tukang pos yang biasa mengantarkan surat di wilayah kelurahan tempat aku tinggal memberi informasi. "Mas, kita ada produk baru nih…" ujarnya. Pak Paino menjelaskan dengan penuh semangat. Ya, PT Pos Indonesia telah melakukan afiliasi dengan Western Union. Sebuah perusahaan berskala internasional dari USA. "Nama produk aliansinya Western Union Money Transfer, mas" tutur pria berkulit hitam itu. Western Union merupakan sebuah perusahaan yang berkedudukan di Amerika Serikat yang fokus pada penyediaan sistem layanan pengiriman uang dan pembayaran internasional. Perusahaan ini memiliki outlet di 183 negara dengan titik layanan lebih dari 76 ribu. "Jadi lebih oke mas," tambahnya.
Wah-wah, aku jadi malu. Padahal aku lulusan universitas alias punya embel-embel gelar sarjana ini itu. Tapi, tak setitik pun informasi tentang kebesaran Western Union kuketahui.
Paling-paling, produk USA yang kutahu ya McDonald’s. Soalnya, produk makanan ala Amerika itu ada di mall. Padahal, rumahku berjarak sekitar 300 meter dari mall itu. Tiap pagi, aku juga selalu melewati mall itu ketika hendak berangkat kerja atau pulang dari membanting tulang.
Mas Pardi, tetanggaku yang asli dari Yogya itu bekerja di McDonald’s. "Wah, tiap hari pasti ramai. Wong kalo kita tutup aja, banyak orang yang kecewa," tuturnya kepadaku.
Mas Pardi sebelumnya bekerja di sebuah restoran anak bangsa. Tapi, ia hanya bertah! an 1 bulan. "Ndak profesional. Masa pekerjaan orang lain harus aku yang tuntaskan. Selain itu, ndak ada pengertiannya kalo ada karyawan yang berprestasi. Jadi males to kerja di sana (baca - restoran anak bangsa)," ungkapnya dengan bibir dibuat memble.
Ahh…jadi bingung kalo mengingat pertemuanku dengan tukang pos atau karyawan McDonald’s itu. Lebih baik nonton tivi aja ahh….
#########
"……….sejumlah ahli menyatakan jika akan pasien di rumah sakit yang tak tertolong jika produk obat-obatan dan alat kedokteran buatan Amerika diboikot………."
########
Ya ampun !!!! baru memilih saluran tivi, kok sudah ada berita itu lagi !!!! Kepalaku jadi terasa mau pecah. serba bingung. Aku pingin menghindari wacana-wacana itu. "Benci USA, boikot produk USA…. Tai kucing lah !!!"
Memang USA mengontrol perekonomian dunia. Mengontrol situasi politik dunia. bahkan budaya pun juga berhasil ditembus. Lha ya memang! USA hebat. Makanya banyak negara kecil, kere, melarat, kudisan dan tak punya apa-apa selain nafas tersisa mencoba untuk meniru kehebatan USA.
Mungkin mereka memang kemudian dijuluki bonekanya USA. Tapi, mereka jadi betul-betul maju jauh melebihi nasib bangsaku....huehuehue... Aku jadi mau menangis.
Aku ndak punya uang banyak. Jadi ndak bisa berpenampilan ala USA. Pakai sepatu Nike, makan di McDonald’s, beli celana jeans impor dari USA dan semua produk-produk wah USA. Paling-paling yang bisa kulakukan ya meniru semangat masyarakat USA, sikap toleransi masyarakatnya yang begitu tinggi, pola pikir masyaraktnya yang begitu terbuka, jiwa demokrasi masyarakatnya yang sangat matang, kecintaannya terhadap sesama mahluk hidup yang begitu hangat. Wah, kalo ingat hal-hal itu aku jadi bisa tersenyum lega.
Bob, sahabatku dari USA pernah bercerita tentang ASPCA. Sebuah departemen kepolisian di New York yang memiliki tugas mengawal! Situasi keamanan binatang. Binatang ???? hahahahha.....betul!!!!!!!
Kalo ada seseorang yang tidak merawat binatang peliharannya dengan baik, polisi ASPCA akan membekuk pemilik binatang itu. Tinggal keputusan hakim yang akan menentukan vonis hukuman berapa lama meringkuk di penjara atau hanya sekedar membayar denda. Tapi dendanya Rp 100 juta rupiah !!! kekekekkeke. Makanya, anjing, kucing, burung, bahkan kuda yang sering dipakai untuk menarik andong pun merasa nyaman tinggal di USA. Ahh, jadi pingin tinggal di sana. Jadi hewan aja malah enak. hehehhehe
Aku membayangkan situasi hewan-hewan itu di negeriku. Orang yang tengah makan di warung/restoran mahal sekalipun, dengan seenaknya menendang kucing buduk yang merengek minta belas kasihan. Kuda-kuda penarik andong nampak letih dan kepanasan memenuhi kebiadaban nafsu mengeruk uang dari kusirnya.
=======????????===========????????==============????????===========????????===========
! Hmmm, membayangkan semua itu, aku jadi bisa sedikit berpikir. Memang aneh orang-orang yang begitu membenci USA. Bersemangat kerbau untuk memboikot produk USA. hahahha.....
Wong kita saja kalah dalam segala-galanya kok mau membenci dan memboikot mereka. USA bisa bikin software, kita cuma bisa mencuri dengan cara membajak software itu. Ada produk top lain, kita bajak lagi. Betul-betul aneh. Ehhh.....ngga aneh.....lha wong memang kita kan maunya enak tanpa harus bersusah payah. Sebar biji buah tinggal panen dalam beberapa waktu. Lha wong, seorang Amerika bernama Arthur yang memilih tinggal di Bali aja dicuekin di Indonesia. Padahal, penemuannya "Directive Communication" malah digandrungi di negara tetangga. Media bersikap terbuka terhadap siapa saja yang memiliki suatu konsep yang mungkin saja berguna bagi kemajuan bangsa dan negara. Tapi di negara ini, sedikit media yang mau terbuka (tanpa harus berpikir bisnis) demi kemajuan bangsa. Makanya aneh. Singapura, Malaysia, India, Jepang. Semua sudah mengetahui siapa Arthur F Carmazzi…..tapi Indonesia ???? Belum !!! Konyol emang.
Sifat gengsi dan ingin wahh. Hmmm.....betul-betul penyakit mengerikan pada diri kita. Makanya, banyak produk makanan USA yang "sebenarnya" tidak laku di negeri asalnya, tapi kita doyan banget memburu di negeri sendiri.
Kolegaku, Allyson merasa sedih ketika melihat kondisi produk makanan USA. "Di sini masyarakatnya tidak terlalu mementingkan unsur gizi pada makanan. Yang penting kelihatan wahh dan berkelas. Padahal, makanan-makanan produk USA yang dijual di sini pasti tidak akan laku jika dijual di USA." Jelasnya.
Ehmm.....makanya, ndak heran kalo pengusaha luar negeri memanfaatkan kelemahan bangsa kita dengan mengumbar produk-produk berkesan wahh…padahal.....busuk di dalamnya.
Lho.....lho.....aku kok jadi bisa sedikit berpikir.....nahh…kayaknya otakku mulai sedikit normal nihh.....
123456789…………………………………….
Kebencian terhadap USA memang harus kembali direnungkan. Benci terhadap baian mana dari USA? Presiden dan seluruh hulu balangnya? Wakil rakyatnya? Masyarakatnya? Atau siapa?
Kalo membenci tindakan Bush yang menindas Irak. Apa harus membenci seluruh aspek yang berhubungan dengan USA?? Kalo begitu, boleh-boleh saja andai ada orang yang benci terhadap Islam karena ada sekelompok Muslim radikal yang melakukan aksi terorisme atas nama jihad. Bukan begitu?
Kekuatan dan kebesaran USA memang memberi kesempatan untuk menguasai dunia. Lebih baik, kita mencari tahu. Apa yang membuat mereka begitu kuat? Apa yang menjadikan mereka begitu besar? Jika kita temukan jawabnya, mari beramai-ramai meniru dan mengikuti metode-metode yang mereka lakukan demi meraih kekuatan dan kebesaran itu.
Kita curi sikap dan sifat positif mereka dan kita hanguskan sifat negatif kita.
Terakhir….udahlah…ndak usah pake boikot-boikotan.
Kalo toh mau boikot karena benci setengah mati pada USA. Yang harus konsekuen. Jangan pake apapun yang berbau USA sekalian. Kalo mempublikasikan seruan boikot USA dan produknya melalui Yahoo. Ya sama saja boong kalo menyebar pamflet seruan boikot USA dan produknya tapi menulis pamflet/selebaran dengan menggunakan program Microsoft ya sama saja bodong.
hehehhehehehe……………cuma joke aja lah yaaaa