Potret Irrasional Muslim
Era globalisasi membuat nilai-nilai Barat menghunjam secepat anak panah ke semua negara dunia ke-3. Satu "isme" utama yang terus diupayakan agar membumi adalah DEMOKRASI. Maka tak bisa dipungkiri, jika nilai-nilai demokrasi telah menginfiltrasi hampir semua sendi dunia. Tak ayal, kaum konservatif merupakan pihak yang secara perlahan namun pasti akan punah.
Lantas bagaimana dengan pola pemikiran umat Islam ? Nyaris 99 % masih terkungkung dalam pola ajaran konservatif. Efeknya, pemikiran umat Islam cenderung lebih tertutup. Ketika suatu wacana yang dinilai bersinggungan dengan wilayah Islamisme meledak, umat Islam dapat dengan mudah bersikap irrasional.
Kasus pemuatan kartun Muhammad adalah salah satu contohnya. Peristiwa bar-bar pun berkecamuk sebagai reaksi terhadap kasus tersebut. Kekerasan dengan merusak wilayah hak orang lain, pemaksaan kehendak dengan melakukan suatu pembenaran opini atas nama agama, dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut membuat hipotesis bahwa Moeslem Always Be Immature makin mendekati keputusan pengukuhan butir-butir kesimpulan. Inilah yang perlu dicegah agar nantinya kesimpulan yang akan bermuara pada suatu teori itu tidak terjadi.
Nilai demokrasi yang dipertahankan pemerintah Denmark bolehlah disebut memiliki aplikasi standar ganda. Dan itu merupakan bentuk kamuflase kepentingan dalam baju faham demokrasi. Namun, apapun alasannya, tindakan purba yang dilakukan umat Islam merupakan anak dari bapak diktator otoritarian. Hal itu tetaplah patut untuk disayangkan.
Berbagai peristiwa dalam sejarah yang membuktikan sikap irrasional muslim banyak tercatat. Lantas siapa yang harus bertanggung jawab ? Tokoh dan pemimpin agamalah faktor "alpha" dalam fenomena ini.
Pola pengajaran Islam saat ini terasa monoton. Umat dibebani suatu ajaran tanpa hak untuk mempertanyakan alasan secara mendalam. Upaya muslim kelompok pembaharuan yang terus melakukan dekonstruksi semua ajaran Islam pun ditabukan. Muslim dihadapkan pada suatu doktrin "lakukan atau masuk neraka". Sebuah kalimat yang sangat bernuansa otoriter.
Kembali lagi pada kasus kartun Muhammad. Jika umat islam saat ini telah mempunyai kematangan jiwa dalam mensikapi suatu fenomena, tindakan purba berupa pengrusakan dan pemaksaan atas nama keyakinan tak akan terjadi.
Pemuatan kartun Muhammad harusnya disikapi sebagai suatu catatan sejarah yang niscaya pernah terjadi sebelumnya. Satu keyakinan bertitik tolak pada fenomena alam. Matahari dan Bulan, siang dan malam akan terus muncul secara berulang. Artinya, di usia kehidupan yang makin renta ini, semua fenomena yang ada saat ini pastilah pernah terjadi pada masa sebelumnya.
Beberapa penelusuran mengenai pemuatan kartun Muhammad pun akhirnya membenarkan teori tersebut adalah, adanya pemuatan sejumlah kartun Muhammad pada abad 14, 15 dan abad pertengahan. Lantas bagaimana fenomena yang terjadi pada masa-masa itu ?
Upaya mencari jawaban masih terus dilakukan.
Main Menu
Affiliates
Advertisers
grafx factory Digital Design
Jotosan Jakarta - Resources and Services for Expatriates in Indonesia
Sandra TK in Jakarta
Edipro Global - professional copy editors and copy writers
interact
Suara Anda
Apakah potret Muslim saat ini bisa merepresentasikan wajah Islam yang sebenarnya?
Ya
Tidak
Tidak tahu


View results
discuss