Directive Communication - Penemunya Tinggal Di Indonesia, Ilmunya Marak Di Negara Tetangga
Metode pelatihan ilmu Directive Communication (DC) atau Petunjuk Komunikasi memang belum terasa familiar di telinga pebisnis Indonesia. Namun sebenarnya, ilmu tersebut sudah sangat dikenal dan diakui oleh sejumlah organisasi dan perusahaan raksasa dunia internasional. Padahal, penemu ilmu tersebut tinggal di Indonesia.
Ironis memang jika melihat begitu banyaknya perusahaan raksasa internasional yang sudah menerapkan metode Directive Communication. Di kawasan Asia saja, sudah begitu banyak kalangan eksekutif dari berbagai perusahaan papan atas yang mengikuti program pelatihan ilmu DC. Sebut saja Feline Chua (Director of Human Resources MTV Asia), Michael Foo (Software Engineering Department Manager Motorola), Ho Yuet Mee (Partner Ernst & Young), Ching Siang Hon (Head of People Development BLOOMBERG Singapore), Tengku Marina Badlishah (Group Corporate Affairs Manager Nestle Malaysia Berhad), Henry Lee (Manager & Corporate Accounts Microsot Corporation), Michale Foo (Software Engineering Department Manager Motorola), Khatimah Mahadi ( Vice President Citibank Malaysia) dan masih banyak lagi.
Ilmu Directive Communication bukan saja menarik perhatian sejumlah perusahaan komersial untuk mengirimkan orang-orangnya guna mengikuti metode pelatihan ilmu tersebut. Ilmu psikologi baru yang ditemukan oleh Arthur F Cramazzi itu juga menarik minat sejumlah pejabat organisasi internasional dan departemen pemerintahan di sejumlah negara untuk mengikuti pelatihan. Diantaranya adalah Col Tung Yui Fai (Commander ARMCEG Singapore Army), Ong Kah Kiat MSc (Assistant Director Military Security Department, Ministry of Defense Singapore) dan Joseph Lo (Senior Project Advisor for Artisan Development Project in Tibet, UNDP).
DC sendiri adalah sebuah ilmu psikologi tentang bagaimana seseorang bertindak dan bereaksi satu sama lain dalam sebuah komunitas. Para tentor ilmu psikologi tersebut menerapkan pelatihan berdasar lingkungan dan budaya setempat. Dengan demikian, ilmu itu menjadi sangat efektif untuk membuat perubahan positif yang sangat beguna bagi para peserta pelatihan. Hasilnya, peningkatan produktifitas dan efektifitas di wilayah kepemimpinan, penjualan, perancangan pola manajemen, pengembangan organisasi dan lain sebagainya bukan menjadi hal yang mustahil untuk diraih.
Feline Chua (MTV Asia) menegaskan jika penerapan Directive Communication yang telah diikutinya mampu membuat perubahan yang berarti bagi MTV Asia. "Manajer-manajer dan staf kami telah mampu menekan frekuensi konflik dalam kerja tim dan meningkatkan produktifitas masing-masing setelah kami menerapkan metode DC," ujarnya. Cynthia Lee (Human Resorces Executive Maybank Malaysia) sebelumnya merasa skeptis untuk mengikuti program pelatihan Directive Communication. Namun, setelah itu, pola pikirnya berubah seratus persen. "Sekarang saya mampu menjalin hubungan kerja lebih baik dan selalu mempunyai gambaran bagaimana sebuah ide positif dapat berjalan," tuturnya.
Sejalan dengan keberhasilan dari berbagai perusahaan besar itu setelah mengikuti program pelatihan DC, Arthur F Carmazzi sebagai penemu dan pemilik hak paten DC mencoba untuk memformulasikan bagaimana agar ilmu tersebut dapat dimanfaatkan oleh organisasi perusahaan lain. Saat ini, Arthur F Carmazzi memiliki sejumlah program yang dapat diikuti. Mulai dari workshop, seminar, pelatihan hingga program menjadi tentor Directive Communication. Program tentor DC merupakan salah satu program yang banyak diminati. Pasalnya, selain mendapatkan pelatihan, para peserta juga mempunyai hak untuk menjadi tentor DC di wilayahnya masing-masing.
Hanzo Ng (aka The Sales Ninja) adalah salah satu peserta program Directive Communication yang saat ini sudah berhak menjadi tentor DC. Selain bisa menerapkan ilmu tersebut di perusahaannya, Hanzo juga meraup ratusan juta rupiah dari hasil menjadi tentor DC di berbagai organisasi perusahaan. "Saya telah menjadi tentor DC sebelum menyelesaikan evaluasi pelatihan DC terakhir. Untuk itu saya mendapatkan uang senilai US $ 4000 atau senilai Rp 40 juta (kurs $ 1 dinilai sekitar Rp 10 ribu). Sekitar 3 bulan setelah menyelesaikan program DC dan mendapatkan sertifikat, saya kembali mendapat $ 18000 atau senilai Rp 180 juta dari hasil bekerja sebagai tentor Directive Communication," ujarnya.
Keberhasilan ilmu psikologi itu rupanya terus menarik perhatian perusahaan besar lain. Bahkan sejumlah media massa di Asia mulai memburu kerja sama dengan Arthur F Carmazzi sebagai penemu dan pemegang hak paten ilmu tersebut. Mulai dari Singapore Straits Time, Today Newspaper Singapore, China Business Post, The Beijing Youth Daily dan lainnya.
Terkait dengan makin banyaknya peserta pelatihan program Directive Communication, Arthur beserta staffnya juga tak lupa membuat website. Dengan demikian, sejumlah pihak yang merasa penasaran dengan program tersebut dapat segera mengakses keterangan dari website yang memiliki alamat www.directivecommunication.com tersebut.
Kini, Arthur F Carmazzi, warga negara Amerika Serikat yang sangat menyukai pulau Bali itu sedang mencoba mengenalkan ilmu tersebut bagi para eksekutif organisasi perusahaan. Pasalnya, meski cukup lama tinggal di Bali, metode pelatihan ilmu DC yang sudah banyak diterapkan sejumlah perusahaan raksasa internasional itu malah belum populer di Indonesia. Hingga saat ini hanya ada satu orang dari sebuah perusahaan di Indoensia yang mengikuti program pelatihan ilmu Directive Communication, yaitu Ferdinand Dion (Head of Corporate Communication Bank NISP).
Sementara itu, Allyson Dungess, warga negara Australia yang tinggal di Jakarta menjelaskan jika dirinya memang tengah mengembangkan berbagai cara guna mengenalkan DC kepada para pebisnis Indonesia. "Sangat sayang jika pebisnis atau pemerintah Indonesia acuh tak acuh dengan ilmu Directive Communication. Padahal, Arthur sendiri sangat menyukai Indonesia sehingga lebih memilih tinggal di Bali," tutur wanita yang saat ini tengah menjalani proses pelatihan ilmu tersebut.
Main Menu
Affiliates
Advertisers
grafx factory Digital Design
Jotosan Jakarta - Resources and Services for Expatriates in Indonesia
interact
Suara Anda
Apa penyebab ilmu DC tak populer di Indoensia?
Karena kurang promosi
Para perlaku usaha kita jauh lebih cerdas
Bangsa kita malas dan tak siap mencoba hal baru


View results
discuss